
Hakikat Cinta Kepada Allah Mengenai hakikat cinta kepada Allah s.w.t. menurut pandangan
hakikat hikmah Tauhid dan Tasawuf, sebagaimana telah
diungkapkan oleh Maulana Imam Ibnu Athaillah Askandary dalam
Kalam Hikmah beliau yang ke-236 sebagai berikut:
"Orang yang begitu sangat cintanya bukanlah orang yang
mengharapkan balasan sesuatu dari pihak yang dicintainya atau dia
menuntut sesuatu maksud dari pihak yang ia cintai, karena orang
yang begitu sangat cintanya itu ialah orang yang memberi buat
anda, bukanlah orang yang begitu sangat cintanya itu merupakan
orang dimana anda memberi buatnya."
Kalam Hikmah ini, sepintas lalu sulit juga menangkapnya, apabila tidak kita berikan penjelasan sebagai berikut: I. Apabila cinta dapat dilukiskan melalui huruf, tulisan dan maksud-
maksud tertentu, pada hakikatnya itu tidak dapat dikatakan cinta
atau mahabbah. Karena cinta yang demikian, adalah cinta yang
dapat dibuat, demi untuk sampai kepada tujuan yang dikehendaki.
Karena itu, barangsiapa yang mencintai seseorang supaya
seseorang itu memberikan sesuatu kepadanya atau menolak
sesuatu yang tidak baik daripada yang mencintai, berarti orang
yang mencintai itu adalah mencintai dirinya sendiri, bukan
mencintai orang yang dicintai. Karena kalau bukanlah sesuatu yang
dituju oleh dirinya sendiri tidak ada, maka pastilah dia tidak akan
mencintai orang yang dicintainya itu.
Karena itulah, hakikat cinta pada orang yang mencintai, adalah
memberikan keseluruhan yang ada pada dirinya demi untuk
mendapatkan kerelaan daripada pihak yang dicintainya. Tanpa ada
sesuatu yang ia ingin capai, berupa sesuatu yang sifatnya lahiriah
dari pihak yang dia cintai.
Sehingga tidak ada apa-apa lagi yang dimiliki olehnya, selain
semuanya itu ia serahkan kepada pihak yang ia cintai. Atau boleh
dikatakan, bahwa yang mencintai adalah dibunuh oleh kecintaannya
itu, sehingga tidak ada tujuannya selain daripada kerelaan dari
pihak yang dicintai. Misalnya saja seperti yang diungkapkan oleh
pengarang Iqazul Himam fi Syarhil Hikam, tentang contoh seorang
laki-laki mencintai seorang wanita. Laki-laki itu berkata: "Aku betul-
betul cinta padamu." Wanita itu menjawab: "Betapa anda cinta
kepada saya, padahal yang duduk di belakang anda itu adalah lebih
baik."
Mendengar itu, si pria tadi memalingkan mukanya melihat wanita yang ada di belakangnya, maka setelah wanita itu melihat bahwa pria itu memalingkan mukanya melihat wanita yang ada
dibelakangnya, dia berkata: "Anda ini adalah manusia yang tidak
baik. Anda mengatakan begitu cinta kepadaku, tetapi anda
palingkan muka anda melihat kepada selainku."
Itulah sebuah contoh dan apabila contoh ini kita kiaskan kepada hubungan cinta kita selaku hamba Allah kepada Tuhan Pencipta alam, Allah s.w.t., juga demikian. Kita mengatakan, kepada diri kita dan kepada orang lain, bahwa kita
cinta kepada Allah, tetapi juga hati kita memalingkan cintanya
kepada sesuatu yang selainNya, atau merasakan sesuatu selain
Allah, yang mempengaruhi hati kita. Maka ini menunjukkan cinta
kita kepada Allah tidak full, tetapi adalah tidak lebih daripada
dakwaan semata-mata.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar