wolcome

thame

Bosen Sama Backgroundnya?
Ganti Aja!

Jumat, 11 Maret 2011



Hakikat Cinta Kepada Allah Mengenai hakikat cinta kepada Allah s.w.t. menurut pandangan
hakikat hikmah Tauhid dan Tasawuf, sebagaimana telah
diungkapkan oleh Maulana Imam Ibnu Athaillah Askandary dalam
Kalam Hikmah beliau yang ke-236 sebagai berikut:
"Orang yang begitu sangat cintanya bukanlah orang yang
mengharapkan balasan sesuatu dari pihak yang dicintainya atau dia
menuntut sesuatu maksud dari pihak yang ia cintai, karena orang
yang begitu sangat cintanya itu ialah orang yang memberi buat
anda, bukanlah orang yang begitu sangat cintanya itu merupakan
orang dimana anda memberi buatnya."
Kalam Hikmah ini, sepintas lalu sulit juga menangkapnya, apabila tidak kita berikan penjelasan sebagai berikut: I. Apabila cinta dapat dilukiskan melalui huruf, tulisan dan maksud-
maksud tertentu, pada hakikatnya itu tidak dapat dikatakan cinta
atau mahabbah. Karena cinta yang demikian, adalah cinta yang
dapat dibuat, demi untuk sampai kepada tujuan yang dikehendaki.
Karena itu, barangsiapa yang mencintai seseorang supaya
seseorang itu memberikan sesuatu kepadanya atau menolak
sesuatu yang tidak baik daripada yang mencintai, berarti orang
yang mencintai itu adalah mencintai dirinya sendiri, bukan
mencintai orang yang dicintai. Karena kalau bukanlah sesuatu yang
dituju oleh dirinya sendiri tidak ada, maka pastilah dia tidak akan
mencintai orang yang dicintainya itu.
Karena itulah, hakikat cinta pada orang yang mencintai, adalah
memberikan keseluruhan yang ada pada dirinya demi untuk
mendapatkan kerelaan daripada pihak yang dicintainya. Tanpa ada
sesuatu yang ia ingin capai, berupa sesuatu yang sifatnya lahiriah
dari pihak yang dia cintai.
Sehingga tidak ada apa-apa lagi yang dimiliki olehnya, selain
semuanya itu ia serahkan kepada pihak yang ia cintai. Atau boleh
dikatakan, bahwa yang mencintai adalah dibunuh oleh kecintaannya
itu, sehingga tidak ada tujuannya selain daripada kerelaan dari
pihak yang dicintai. Misalnya saja seperti yang diungkapkan oleh
pengarang Iqazul Himam fi Syarhil Hikam, tentang contoh seorang
laki-laki mencintai seorang wanita. Laki-laki itu berkata: "Aku betul-
betul cinta padamu." Wanita itu menjawab: "Betapa anda cinta
kepada saya, padahal yang duduk di belakang anda itu adalah lebih
baik."
Mendengar itu, si pria tadi memalingkan mukanya melihat wanita yang ada di belakangnya, maka setelah wanita itu melihat bahwa pria itu memalingkan mukanya melihat wanita yang ada

dibelakangnya, dia berkata: "Anda ini adalah manusia yang tidak
baik. Anda mengatakan begitu cinta kepadaku, tetapi anda
palingkan muka anda melihat kepada selainku."
Itulah sebuah contoh dan apabila contoh ini kita kiaskan kepada hubungan cinta kita selaku hamba Allah kepada Tuhan Pencipta alam, Allah s.w.t., juga demikian. Kita mengatakan, kepada diri kita dan kepada orang lain, bahwa kita
cinta kepada Allah, tetapi juga hati kita memalingkan cintanya
kepada sesuatu yang selainNya, atau merasakan sesuatu selain
Allah, yang mempengaruhi hati kita. Maka ini menunjukkan cinta
kita kepada Allah tidak full, tetapi adalah tidak lebih daripada
dakwaan semata-mata.



BANGGA SEBAGAI SEORANG MUSLIM SEJATI

Al Qur’an menyatakan bahwa:

Sesungguhnya agama di sisi Allah (hanyalah) Islam …. Barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. (Ali ‘Imran 3:19,85).

Al Qur’an menyatakan hal ini kerana kata ‘Islam’ itu sendiri bererti menyerahkan diri kepada Allah SWT Yang Maha Pencipta. Selanjutnya Al Qur’an juga menyatakan:

Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, barangsiapa yang beriman kepada Allah, hari kemuddian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada ketakutan bagi mereka, dan tidak (pula) mereka berduka cita. (Al Baqarah 2:62).

Golongan orang-orang yang disebutkan oleh Al Qur’an di atas tidak secara langsung disebut ‘Muslim’, sehingga patut dipertanyakan, bagaimana agama mereka dapat diterima? Hal ini sungguh menimbulkan berbagai pertanyaan seperti di bawah ini:

Apa sebenarnya erti kata ‘Muslim’ itu sendiri?

Apakah sebutan ‘Muslim’ hanya berlaku untuk para pengikut Nabi Muhammad saja?

Apakah agama Islam berawal dari Nabi Muhammad?

Terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas Al Qur’an sudah memberikan jawapannya.

Nabi Ibrahim Adalah Seorang Muslim

Al Qur’an menyatakan:

Tidaklah Ibrahim itu seorang Yahudi dan tidak (pula) orang Nasrani, tetapi dia seorang yang lurus lagi muslim. (Ali ‘Imraan 3:67).

Disini nabi Ibrahim ternyata disebut sebagai seorang muslim (berserah kepada Allah) meskipun beliau sendiri masa hidupnya jauh sebelum nabi Muhammad.

Kaum Hawariyun (Murid-murid Isa Al Masih) Adalah Orang-orang Muslim

Al Qur’an menyatakan:

Dan (ingatlah) ketika Aku ilhamkan kepada hawariyun (para sahabat Nabi Isa) agar mereka beriman kepada-Ku dan kepada rasul-Ku! Mereka menjawab, “Kami telah beriman dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim. (Kata-kata terakhir ini, dapat diterjemahkan secara harfiah ‘kami sudah menjadi orang muslim sebelumnya.’) (Al Maa-Idah 5:111).

Seperti halnya nabi Ibrahim, kaum Hawariyun ini juga disebut orang-orang muslim meskipun mereka hidup sebelum masa nabi Muhammad.

Di Antara Orang-orang yang Hidup Sezaman dengan Nabi Muhammad Juga Terdapat Orang-orang Muslim

Di dalam Al Qur’an dapat kita membaca:

Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka sebelumnya (Al Qu’ran), mereka beriman dengannya. Dan apabila dibacakan (Al Qur’an) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman dengannya; sesungguhnya dia adalah kebenaran dari Tuhan kami. Sesungguhnya kami sebelumnya adalah berserah diri (muslim). (Al Qashash 28:52,53)

Jika diterjemahkan secara harfiah, maka kata terakhir dari ayat 53 tadi mempunyai erti : “Kami adalah orang-orang Muslim sebelumnya (Al-Quran).”

Nabi Muhammad Mendapatkan Perintah Agar Menjadi Seorang Muslim

Di dalam Al Qur’an, nabi Muhammad sebelum beriman kepada Allah diuraikan sebagai berikut: “Engkau (sebelumnya) tidak fahami Kitab dan apa iman itu,” (Asy Syuura 42:52). Di dalam surat An Naml 27:91 nabi Muhammad berkata:”…dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim),” atau secara harfiah, nabi Muhammad diperintahkan menjadi bahagian dari golongan orang-orang ‘Muslim.’ Dan kalau kita baca surat Yunus 10:72, dapat kita temui bahwa semasa nabi Muhammad hidup, sudah terdapat orang-orang muslim. Pada saat nabi Muhammad belum mengetahui tentang Al Kitab atau pun apakah iman kepada Allah itu, orang-orang yang hidup dengan tuntunan Al Kitab itu (kaum Ahli Kitab) sudah memiliki Al Kitab dan beriman kepada Allah SWT. Selanjutnya mereka menyatakan kepada nabi Muhammad bahwa mereka sudah termasuk golongan orang-orang Muslim sebelum kedatanganya, dan apa yang disampaikan kepada mereka olehnya bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan menurut Al Qur’an surat An Naml ayat 91 yang disebutkan di atas, nabi Muhammad diperintahkan untuk masuk ke dalam golongan mereka yang adalah golongan orang-orang muslim tersebut.

Nama Islam Bukanlah Sesuatu yang Baru

Di dalam ayat-ayat yang sudah dipaparkan tadi (Al Qashash 28:52,53 dan Al Maa-Idah 5:111), kata ‘Muslim’ kadang-kadang diterjemahkan sebagai ‘menyerahkan diri kepada Allah‘. Dengan demikian kata ‘Muslim’ tersebut dijadikan sebagai kata kerja dan bukan kata benda.

Bagaimana pun juga terjemahan ini jelas-jelas kurang tepat sebab tidak konsisten dengan apa yang dinyatakan oleh Al Qur’an sendiri di dalam surat Al Hajj 22:78 yaitu:”…Dia (Allah) telah menamakan kamu muslimin dari dahulu, dan dalam Al Qur’an ini.” Ayat ini secara terus-terang menegaskan bahwa Allah telah menyebut ‘Muslim’ terhadap orang-orang yang beriman kepada-Nya di dalam Kitab-kitab sebelum Al Qur’an dan juga di dalam Al Qur’an.

Berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an di atas, kita dapat mengatakan bahwa nabi Ibrahim adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah dan disebut juga Muslim, murid-murid atau pengikut Isa Almasih adalah orang-orang Muslim pula, dan kiranya Allah menjadi saksi mereka; dan bahkan kaum Ahli Kitab (Nasrani) yang hidup pada masa nabi Muhammad juga menyatakan bahwa mereka telah lebih dulu Muslim sebelum nabi Muhammad menjadi Muslim.

Keterangan dari Al Qur’an Mengenai Para Pengikut Isa Almasih

Lebih lanjut Al Qur’an menerangkan bahwa orang-orang yang telah diberi Al Kitab sebelum Al Qur’an (yaitu orang-orang yang menyatakan diri sudah menjadi Muslim sebelum kedatangan nabi Muhammad), “…diberi pahala dua kali ganda disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, serta menafkahkan sebahagian dari apa yang telah Kami beri kepada mereka. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang sia-sia, mereka berpaling darinya dan mereka berkata:”Bagi kami amal kami dan bagi kamu amalmu, keselamatan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (Al Qashash 28:54,55).

Sedemikdian dalamnya kesan yang ditangkap nabi Muhammad tentang orang-orang Muslim terdahulu (para pengikut Hawariyun). Kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah para pengikut Isa Al Masih dari apa yang telah mereka perbuat, yaitu mereka membalas kejahatan dengan kebaikan. Hal ini sungguh merupakan bukti ketaatan mereka terhadap apa yang telah disabdakan (difirmankan) oleh Isa Almasih yang adalah Firman Allah dan Ruh Allah. Beginilah bunyi sabda (firman) tersebut:

“Tetapi kepada kamu yang mendengar Aku, Aku berkata: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga dia mengambil bajumu. Berilah setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? kerana orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jika kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, kerana kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Maha Tinggi, sebab dia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Kitab Muqadas (Injil) Lukas 6:27-35).

Orang-orang yang tertera di dalam firman Isa Almasih inilah yang dimaksudkan Al Qur’an sebagai orang-orang yang “…diberi pahala dua kali ganda.” Dengan demikian, tidakkah Anda merasa bangga menjadi satu golongan dengan orang-orang Muslim terdahulu tersebut?

Kedudukan Kaum Ahli Kitab di Dalam Al Qur’an

Orang-orang Muslim terdahulu ini, benar-benar dihargai baik oleh nabi Muhammad maupun oleh Al Qur’an sendiri. Hal ini disebabkan pada saat-saat nabi Muhammad berada di dalam keragu-raguan, kepada merekalah dia harus meminta penjelasan agar menyelenyapkan keragu-raguanya tersebut. Mari kita lihat apa yang dikatakan Al Qur’an mengenai hal tersebut:

Maka jika engkau (Muhammad) dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab [secara harafiah: Al Kitab] sebelum engkau. Sungguh telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu. (Yunus 10:94)

Maka patutkah aku mencari hakim selain dari Allah, padahal Dia-lah yang telah menurunkan Kitab kepada kamu dengan terperinci? Dan orang-orang yang telah Kami beri Kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Qur’an sebenarnya diturunkan dari Tuhanmu, maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.

Dan telah sempurnalah kalimat Tuhan engkau (Al Qur’an), dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al An’Aam 6:114-115).

Jadi, apakah yang telah diwahyukan kepada nabi Muhammad yang dia sendiri masih meragukannya? Jelaslah bahwa yang diwahyukan itu adalah Al Qur’an.

Meskipun yang menyampaikan wahyu itu adalah malaikat Jibril, nabi Muhammad diminta untuk mencari nasihat dan dorongan kepada kaum Ahli Kitab (Nasrani) untuk mengukuhkan keyakinannya, saat mengalami keragu-raguan tentang wahyu yang diturunkan kepadanya tersebut (Al Qur’an).

Umat Ahli Kitab itu tidaklah memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pada malaikat Jibril. Mereka hanyalah segolongan orang yang memiliki Kitab Tuhan (Firman Allah) yang diturunkan terlebih dahulu. Dalam Al Kitab mereka tersebut terkandung wahyu-wahyu yang diturunkan kepada ramai nabi sebelum nabi Muhammad. Mereka yang adalah sumber keyakinan rohani bagi nabi Muhammad dalam masa-masa keraguannya, memiliki nilai dan kekuasaan serta pengetahuan yang didapatkan kerana mereka “membaca Al Kitab.”

Kepada nabi Muhammad Al Qur’an menyatakan: “Maka jika engkau berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum engkau.” (Yunus 10:94). Kita tentu tahu bahwa perintah ini harus ditanggapi secara serius, kerana pada ayat yang lain nabi Muhammad juga diperingatkan setegas-tegasnya agar tidak berpaling dari kebenaran yang telah diturunkan sebelumnya.

Sekiranya tak diragukan lagi bahwa nabi Muhammad diminta untuk merujuk kepada umat yang membaca Al Kitab terlebih dahulu sebagai pengesahan muktamad dan tertinggi tentang kebenaran. Mereka yang membaca kitab-kitab sebelumnya memiliki iman yang sedemikian kuat, kerana berdasarkan kepada apa yang terdapat di dalam Al Kitab yang diturunkan sebelum Al Qur’an. Mereka adalah manusia biasa yang hidupnya di bumi, bukan di syurga. Mereka hidup sezaman dengan nabi Muhammad, dan pada mereka terdapat Al Kitab yang menjadi induk dan sumber bagi mereka dalam memutuskan perkara-perkara kebenaran secara menyeluruh.

Mereka, kaum ahli Kitab itu, tidak hanya sekedar memiliki Al Kitab saja, tapi mereka juga nyata-nyata sebagai kaum yang mematuhi perintah-perintahnya. Di dalam Al Qur’an dinyatakan:

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami beri kitab, hukum dan kenabian. Sebab itu jika mereka itu (Quraisy) mengingkarinya, maka sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, sebab itu ikutilah petunjuk mereka.” (Al An’Aam 6:89-90)

Dalam ayat ini nabi Muhammad diperintahkan untuk dibimbing oleh orang-orang yang menerima Al Kitab sebelumnya (kaum Ahli Kitab). Nabi Muhammad juga diminta untuk menanyakan hal-hal yang diragukannya agar dapat lepas dari keragu-raguannya tersebut. Bahkan dia diperintahkan pula untuk mengikuti petunjuk orang-orang yang sama yang sudah diberi Al Kitab oleh Allah tersebut. Mereka itulah orang-orang yang hidup sezaman dengan nabi Muhammad, sebab bagaimana mungkin dia dapat meminta petunjuk kepada orang yang sudah meninggal?

Orang-orang muslim yang taat melakukan solat, pada setiap hari berdoa seperti yang terdapat di dalam surat Al Faatihah ayat 6-7.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (jalan) mereka yang sesat. (Al Faatihah 1:6-7)

Jadi sekarang kira-kira siapakah yang dimaksudkan dengan orang-orang yang telah diberi hikmat oleh Allah tersebut? Jelaslah mereka itu adalah kaum Ahli Kitab. Allah telah memberi kepada mereka di atas kaum manapun di dunia ini kerana mereka memiliki Al Kitab yang diturunkan dari Allah. kerananya ungkapan “Ahli Kitab” yang terdapat di dalam Al Qur’an hanya dapat diertikan sebagai mereka yang menjadi orang-orang Muslim terdahulu itu.

Berdasarkan Al Qur’an surat Al An’Aam 6:89-90 yang sudah disebutkan sebelumnya, jika nabi Muhammad saja diperintahkan untuk mengikuti petunjuk kaum Ahli Kitab, demikian pula para pengikutnya (nabi Muhammad) tentu harus mengikuti petunjuk tersebut.

Kita telah melihat bahwa gelar ‘Muslim’ juga berlaku untuk kaum Ahli Kitab baik yang hidup sebelum masa nabi Muhammad maupun yang hidup sezaman dengannya. Mereka inilah yang menurunkan ajaran-ajaran dan tradisi-tradisi nabi Ibrahim sampai kepada masa Isa Al Masih. Sebahagian tidak hanya memiliki Kitab Suci, tapi juga mengamalkannya dengan sungguh-sungguh sehingga wajarlah kalau nabi Muhammad datang meminta petunjuk kepada mereka ketika mengalami keragu-raguan tentang apa yang diturunkan di dalam Al Qur’an.

Para Pengikuti Isa Almasih Tetap Akan Ada Sampai Kepada Hari Kiamat

Sehubungan dengan para pengikut Isa Al Masih dan Hari Kiamat, Al Qur’an menyatakan:

(Ingatlah) tatkala Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku dan akan menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas mereka yang kafir hingga hari kiamat.” (Ali ‘Imraan 3:55)

Menurut bahagian terakhir dari ayat tadi Allah berjanji bahwa:

1. dia akan menempatkan para pengikut Isa Al Masih di atas orang-orang kafir.

2. Dukungan Ilahi ini akan tetap berlaku sampai datangnya Hari Kiamat. Hal ini bererti bahwa pengikut Isa Al Masih itu harus tetap ada, mulai dari zaman Isa Al Masih sampai zaman nabi Muhammad dan seterusnya sampai zaman sekarang, yaitu dari generasi ke generasi sampai nanti Hari Kiamat. Di samping itu, para pengikut Isa Al Masih tidak hanya akan terus ada, tapi mereka juga mempunyai keutamaan di atas orang-orang kafir.

Ibnu Garir atas nama Ibnu Yazid menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pengikut Isa Al Masih di dalam Ali ‘Imraan 3:55 tadi adalah orang-orang Nasrani. Lebih lanjut menurutnya:

Orang-orang Nasrani mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari orang-orang Yahudi sampai Hari Kiamat, sebab tidak ada satu negarapun di mana penduduk Yahudinya lebih tinggi dari penduduk Nasrani. Sehingga baik di barat maupun di timur, orang-orang Yahudi selalu tertindas.[1]

Imam Tirmidzi mengutip sebuah hadis sebagai berikut:

Rasulullah S.A.W. bersabda: “Demi Dia yang telah mengutusku dengan kebenaran, aku berkata sesungguhnya Putera Maryam akan mendapati kaumku sebagai pengganti murid-murid-Nya.”[2]

Dengan demikian, apa sebetulnya maksud ayat-ayat tersebut bagi kita?

1. Murid-murid Isa Al Masih (Hawariyun) adalah orang-orang Muslim. (Al Maa-Idah 5:111).

2. Para pengikut Hawariyun menyatakan diri kepada nabi Muhammad bahwa mereka terlebih dahulu adalah orang-orang Muslim. (Al Qashash 28:52-53).

3. Menurut Ali ‘Imraan 3:55 bahwa di hadapan Allah para pengikut Isa Al Masih itu akan terus tetap Muslim dan mempunyai kedudukan jauh lebih tinggi di atas orang-orang kafir hingga Hari Kiamat. Sungguh alangkah berbahagianya jika menjadi salah seorang dari kaum Muslim semacam itu.

GELARAN “AL KITAB” DI DALAM AL QUR’AN

Kaum Ahli Kitab yaitu kaum yang padanya terdapat Al Kitab bukan hanya mendapat kedudukan sebagai orang-orang Muslim yang pertama dan asli, tapi Al Kitab merekapun dinyatakan sebagai Al Kitab yang asli pula. Nabi Muhammad tidak pernah menyatakan diturunkan kitab suci baru. Bahkan dia menyatakan bahwa Al Qur’an merupakan Al Kitab yang telah diwahyukan sebelumnya yaitu Injil. Hal ini dipertegas dengan apa yang dinyatakan di dalam Al Qur’an itu sendiri:

Kemudian Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa menyempurnakan (nikmat Kami) atas orang-orang yang berbuat kebaikan, dan penjelasan bagi segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman akan menemui Tuhannya. Dan inilah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertawalah agar kamu diberi rahmat. Agar kamu tidak mengatakan: “Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami lalai dari membaca kitab mereka, atau agar kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya, kalau kitab itu diturunkan kepada kami, niscaya kami lebih mendapat petunjuk dari mereka.” (Al An’Aam 6:154-157).

Di sini nabi Muhammad menyatakan kepada kaumnya bahwa mereka tak mempunyai dalih lagi. Kitab Suci yang telah diturunkan kepada dua golongan sebelumnya yaitu kaum Yahudi dan kaum Nasrani telah datang kepada mereka. Jadi ditinjau dari sejarah dan secara teologik, kata asli ‘Al Kitab’ atau ‘kitab’ dalam ayat di atas mengacu kepada Taurat dan Injil. Nabi Muhammad menyatakan bahwa apa yang dia sampaikan kepada kaumnya tidak lain dari pada Al Kitab yang sudah diturunkan kepada dua golongan yang beriman sebelum mereka.

Kata Al Qur’an dalam ayat tadi disebut ‘kitab‘ sedangkan Taurat/Injil disebut ‘Al Kitab‘. Dengan kata lain, Al Qur’an disebut sebagai kitab dalam erti umum (tanpa article) sedangkan Al Kitab (Bible) disebut secara khusus (dengan diawali kata Al sebagai article). Di lain tempat kita juga dapat temukan bahwa Al Qur’an itu tidak lain dari pada wahyu dari Al Kitab, yaitu Taurat, Zabur dan Injil, seperti yang dinyatakan oleh ayat Al Qur’an berikut:

” Dan yang telah Kami wahyukan kepadamu dari Al Kitab (Al-Qur’an) adalah yang hak, membenarkan apa-apa yang sebelumnya (kitab-kitab).” (Al Faathir 35:31).

Perbedaan antara Injil dan Al Qur’an hanya kerana Taurat dan Injil itu diwahyukan dalam bahasa yang tidak difahami oleh bangsa Arab, sementara Al Qur’an diturunkan dalam bahasa ibu mereka. Perbedaan ini tertulis di dalam Al Qur’an: “Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an berbahasa Arab supaya kamu berfikir.” (Az Zukhruf 43:3).

Jadi, ada dua buah Al Qur’an yaitu Al Qur’an yang berbahasa Arab dan yang bukan berbahasa Arab. Tapi Al Qur’an yang bukan berbahasa Arab tersebut telah dibuat dalam bahasa Arab sehingga orang-orang Arab dapat memahaminya.

Selanjutnya Al Qur’an juga menyatakan: ” Dan sebelum Al Qur’an itu telah ada kitab Musa sebagai ikutan dan rahmat, sedang ini (Al Qur’an) satu kitab yang membenarkan dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan menggembirakan orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al Ahqaaf 46:12). Sekali lagi apabila dikaitkan dengan Al Kitab, Al Qur’an disebut kitab, sementara Kitab Suci Injil disebut Al Kitab. Menurut ayat di atas (jika diterjemahkan sebenarnya), kitab Musa itu disebut ‘kitab Imam‘. Oleh kerana itu Al Kitab adalah yang dasar dan yang asli.

Hal ini juga terlihat dari kata ‘Qur’an’ itu sendiri. Sebenarnya kata ‘Qur’an‘ ini bukanlah berasal dari bahasa Arab, melainkan bahasa Aramaik. Dr. Shobby as-Shaleh menyatakan: “Allah telah memilih nama baru bagi wahyu-Nya, yang nama itu berbeda dari nama yang digunakan bangsa Arab baik secara umum maupun secara khusus.”[3] Dr. Shobby as-Shaleh juga mengatakan: “Sebelum adanya Islam, ketika bangsa Arab menyebut kata (qara’), itu bererti hamil atau melahirkan. Sedangkan kata qara’ dengan erti ‘membaca’ adalah berasal dari bahasa Aramaik.[4]

Bahkan kata ‘kitab‘ yang merupakan sebutan bagi Al Qur’an pun menurut Dr. Shobby bukanlah bahasa Arab, tetapi juga bahasa Aramaik.[5] Bukan hanya kata-kata itu saja yang merupakan bahasa Aramik, tapi kata-kata lain seperti kata al-Furqan. Menurut Dr. Salih, bahkan kata ini juga berasal dari bahasa Aramik. [6] Selain itu Al Qu’ran sebagai kitab disebut Mus-haf, yang bukan merupakan bahasa Arab. Dr. Shalih selanjutnya mengatakan bahwa: “Pada waktu ayat-ayat Al Qur’an dikumpulkan dan ditulis di atas kertas, ada beberapa orang mengcadangkan untuk memberi kumpulan ayat-ayat itu dengan nama Sifr. Tapi cadangan ini ditolak sebab nama ini telah dipakai oleh orang Yahudi sebagai nama kitab mereka. Sementara itu beberapa orang lain lagi mengcadangkan untuk memberi nama mushaf sebagai mana orang Nasrani di Ethiopia (Habsyah) memakainya untuk menamai kitab suci mereka.”[7] kerana sejak semula Al Qur’an menyatakan hanya memuat apa yang terdapat di dalam kitab-kitab sebelumnya, maka wajarlah kiranya kalau dia memakai nama yang bukan bahasa Arab tetapi sebenarnya diperoleh dari Kitab-kitab yang sebelumnya.

Telah banyak pendapat yang menyatakan bahwa Al Kitab telah dicemari dan dipalsukan. Al Qur’an menyatakan: “Dan kami telah menurunkan kepadamu (Muhammad) kitab Al Qur’an dengan (membawa) kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya dari Alkitab dan menjadi kesaksian atasnya” (Al Maa-Idah 5:48). Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa Al Qur’an diturunkan untuk mengukuhkan dan menjadi kesaksian atas wahyu-wahyu yang diturunkan sebelumnya. Jika Al Kitab dikatakan telah dipalsukan, hal itu sama saja mengatakan bahwa Al Qur’an gagal mencapai tujuan. Apakah patutnya dikatakan, bahwa Al Qur’an tidak sempurna?

Kita telah melihat sebelumnya bahwa saat nabi Muhammad berada dalam keragu-raguan, dia selalu mengacu atau merujuk kepada Al Kitab yang diturunkan sebelumnya untuk menghilangkan keragu-raguannya tersebut. Biasanya orang demi mendapatkan kejelasan tak akan merujuk atau mengacukan diri kepada sesuatu yang lebih rendah kedudukannya, tetapi sebaliknya kepada sesuatu yang mempunyai kewibawaan yang lebih tinggi. Ketika nabi Muhammad mengacu kepada Injil, dia merujuk kepada Al Kitab yang mempunyai kedudukan lebih tinggi. Meskipun padanya telah diberi Al Qur’an, nabi Muhammad tetap ragu-ragu. Namun begitu dia merujuk kepada Al Kitab, akibatnya hilanglah semua keraguannya itu. Dengan kenyataan ini, akankah Allah membiarkan firmanNya di dalam Al Kitab dipalsukan atau didustakan yang dapat menghilangkan keraguan2 nabi Muhammad itu? Nah, kalau ada orang yang berani mengatakan bahwa Firman Allah dapat atau telah dipalsukan, keberanian ini sama dengan menghina dan menyerang Allah Yang Maha Tinggi dan Agung sebab apa yang dikatakan orang tadi merupakan tuduhan hina bahwa Allah tidak mampu menjaga kemurnian Firman-Nya. Masya Allah!

Setiap kali ada kata Al Kitab yang disebutkan di dalam Al Qur’an, kata itu aslinya merujuk kepada Taurat dan Injil. Kalaupun yang dimaksud oleh kata Al Kitab itu adalah Al Qur’an, Al Qur’an di sini bererti Al Kitab (Taurat dan Injil) yang berbahasa Arab. Taurat dan Injil adalah Al Kitab dasar yang dimiliki oleh orang-orang Muslim yang awal tersebut.

KAUM AHLI KITAB

Banyak ayat-ayat di dalam Al Qur’an yang menggunakan istilah ‘Ahli Kitab’. Yang dimaksud dengan istilah ini selalu kaum Yahudi dan kaum Nasrani baik salah satu di antara mereka atau kedua-dua golongan tersebut. Tak sekalipun ayat-ayat Al Qur’an itu menyebut pengikut nabi Muhammad dengan sebutan ‘Ahli Kitab’.

Kaum Ahli Kitab ini oleh Al Qur’an juga disebut dengan sebagai “Kaum yang berhikmat” atau “Kaum yang diberi hikmat,” atau “Kaum yang memiliki ilmu Al Kitab,” atau “Orang-orang yang mempunyai pengetahuan.” Sebagai contoh dalam tiga ayat ini Al Qur’an menyatakan:

Katakanlah:” Apakah kamu percaya kepadanya atau tidak percaya (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menundukan dagunya (mukanya) bersujud.” (Al Israa’ 17:107).

” Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antara kamu, dan (kesaksian) orang-orang yang mempunyai pengetahuan (tentang) Kitab.” (Ar Ra’d 13:43).

Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu (tentang nabi dan kitab) jika kamu tidak mengetahui (rasul-rasul diutus), dengan bukti-bukti dan kitab-kitab (Zabur). (An Nahl 16:43-44).

Yang dimaksud dengan ‘yang mempunyai pengetahuan’ itu bukanlah Al Qur’an, melainkan kaum Ahli Kitab yang mempunyai pengetahuan tentang Kitab Zabur. Al Qur’an menyatakan: “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (kami tulis di dalam) Lauhul Mahfudz (Kitab Pengetahuan), bahwasanya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh. (Al Anbiyaa’ 21:105). Dalam ayat ini yang dimaksud dengan Kitab Pengetahuan adalah sebuah kitab yang diturunkan sebelum Kitab Zabur. kerana itu mustahil kitab tersebut adalah Al Qur’an. Kaum Ahli Kitab merupakan kaum yang mempunyai pengetahuan. Dalam Kitab Tafsir Jalalen disebutkan bahwa orang-orang (kaum) yang mempunyai pengetahuan itu adalah para Ahli Kitab Taurat dan Injil. Dalam Ar Ra’d 13:43 di atas telah dinyatakan bahwa erti kesaksian kaum ini lebih tinggi dari kesaksian-kesaksian lain kecuali kesaksian Allah sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa mereka yang telah menjadi Muslim sebelum kedatangan nabi Muhammad dan Al Qur’an, mereka yang termasuk orang-orang Muslim Awal, dan mereka orang-orang yang mempunyai ilmu Al Kitab, mereka semua itulah yang mempertahankan agama sejati dan Tauhid. Inilah yang disaksikan oleh Al Qur’an mengenai orang-orang itu:

Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (menyaksikan) berdiri dengan keadilan. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama di sisi Allah (hanyalah) Islam. (Ali ‘Imraan 3:18-19).

Kaum Ahli Kitab di atas, sejak sebelum kedatangan nabi Muhammad sampai pada masanya pun tetap bersaksi bahwa Tuhan itu Maha Esa. Mereka merupakan orang-orang yang mempunyai pengetahuan Al Kitab sejak sebelum kedatangan nabi Muhammad, bahkan sampai sekarang pun mereka tetap mempertahankan dan mengajarkan iman yang benar dan sejati.

Lebih lanjut Al Qur’an menyebutkan bahwa kaum Ahli Kitab adalah “orang-orang yang berilmu” dalam hal Kebenaran dan masalah-masalah rohani. Petunjuk dan bimbingan merekalah yang harus diikuti dan diteladani oleh nabi Muhammad dan nasihat-nasihat merekalah yang harus dijadikan harapan nabi Muhammad agar menghilangkan keragu-raguannya. Sebaliknya Al Qur’an mengatakan bahwa orang-orang yang mengikuti nabi Muhammad adalah orang-orang yang kurang mengetahui hal-hal rohani. Inilah yang dinyatakan di dalam Al Qur’an:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah: “Roh itu adalah urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit.” (Al Israa’ 17:85)

Razi mengatakan pada waktu ayat ini turun, orang-orang yang menanyakan tentang ruh kepada nabi Muhammad bertanya: “Apakah jawapan ini (kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit) hanya ditujukan kepada kami atau engkau termasuk di dalamnya?” Nabi Muhammad menjawab:” Ayat (jawapan) di atas ditujukan untuk kita semua (yang tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit).” [8] Kalau pengikut-pengikut nabi Muhammad yang “tidak diberi ilmu melainkan sedikit”, sebaliknya kaum Ahli Kitablah disebut sebagai “kaum yang berhikmat”.

Kemudian Al Qur’an menyatakan: “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu; di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (terang maknanya), itulah ibu (pokok) kitab dan yang lain mutasyabihat.” (Ali ‘Imraan 3:7). Dengan kata lain bahwa sebahagian ayat-ayat yang ada di dalam Al Qur’an itu dapat difahami dengan jelas, sedangkan yang lain lagi masih samar-samar. Sekarang pertanyaannya adalah: berapa banyak jumlah ayat yang jelas dan dapat difahami, dan berapa banyak juga jumlah ayat yang masih samar-samar? Imam Ghazali yang dianggap oleh umat Islam sebagai tokoh muslim terbesar mengatakan bahwa ayat yang jelas dan dapat difahami berjumlah 500 ayat, sedangkan jumlah keseluruhan ayat di dalam Al Qur’an adalah 6616 ayat.[9] Jadi, dengan fakta di atas nyatalah bahwa sebahagian besar (92%) ayat-ayat Al Qur’an itu masih samar-samar atau tidak dapat difahami dengan jelas. Oleh kerana itu Al Qur’an menyuruh para pengikut nabi Muhammad untuk bertanya kepada orang-orang yang berilmu yaitu kaum Yahudi dan Nasrani (menurut tafsir Jalalen) apabila ada hal-hal yang tidak dapat difahami. Menurut tafsir Jalalen, orang-orang yang berilmu adalah tokoh-tokoh baik, Yahudi maupun Nasrani.

Menurut Al Anbiyaa’ 21:7 “Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahu”. Jikalau bahkan nabi Muhammad sendiri diperintahkan untuk menanyakan hal-hal yang tidak dia ketahui kepada kaum Ahli Kitab, yaitu orang-orang yang telah membaca Al Kitab sebelum dirinya, apalagi para pengikutnya harus menurut dalam hal ini juga.

Perintah di atas tidak hanya berlaku pada zamannya nabi Muhammad saja, tetapi sampai sekarangpun masih tetap berlaku. Kalau begitu jelaslah bahwa kaum ahli kitab yang adalah kaum Muslim yang sejati, merupakan penjaga kebenaran dan iman di dalam Tuhan.

Contoh nyata betapa dapat dipercayainya petunjuk yang diberikan oleh kaum Ahli Kitab itu dapat ditemukan di dalam buku pelajaran sekolah menengah di salah satu negara muslim. Buku berjudul Tauhid ini, ditulis oleh Yousif Karadawi, Elewah Mustafa dan Ali Gamar, serta diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Qatar pada tahun 1968. Buku tersebut tidak hanya digunakan di Qatar, tapi juga di Indonesia. Dalam bab-bab awal dari buku ini, para pengarang mengutip pendapat tiga belas tokoh Al Kitab dan lapan sarjana Muslim untuk meyakinkan betapa penting-nya dan mengimani keberadaan Tuhan. Salah seorang ahli Al Kitab itu, yaitu Abraham Cressy Morrison, dipetik pendapatnya sebanyak sembilan kali, dan tertuang dalam bentuk tulisan sebanyak 127 baris, sementara itu seluruh petikan pendapat dari para sarjana Muslim hanyalah sebanyak 76 baris.

Pada bab yang ketiga yang berjudul ‘Sifat-sifat Ketuhanan’, para pengarang meringkas jawapan dari seorang tokoh tanpa menyebutkan nama tokoh itu, dalam rangka memberikan jawapan atas pertanyaan ini: “Seandainya Tuhan itu telah menciptakan segala sesuatu, lalu siapakah yang menciptakan Tuhan?” Dibawah inilah jawapan dari sarjana yang tidak disebutkan namanya tadi:

tokoh itu mengatakan bahwa pertanyaan: Siapakah yang menciptakan Tuhan itu tidaklah logik. Untuk menjelaskan idenya ini dia memberikan dua contoh. Yang pertama adalah: “Kalau anda meletakkan salah satu buku anda di atas meja, lalu anda meninggalkan ruangan. Sebentar kemudian anda kembali lagi keruangan itu dan mendapatkan buku yang diletakkan di atas meja tadi sudah ada di dalam laci. Anda lalu merasa yakin bahwa seseorang telah meletakkan buku itu ke dalam laci tadi, sebab menurut kodratnya, mustahil bahwa buku itu dapat pindah sendiri.”

Selanjutnya contoh kedua adalah sebagai berikut: ” Jika anda berada di dalam suatu ruangan bersama orang lain, dan dia pula duduk di atas kerusi. Lalu anda keluar, dan pada saat anda kembali lagi ke ruangan tadi, orang itu sudah duduk di lantai. Anda tidak menanyakan penyebab pindahnya orang tersebut, selain itu Anda tentunya akan merasa yakin tak mungkin seseorang telah memindahkan orang itu dari atas kerusi ke lantai, sebab anda tahu bahwa dia dapat berpindah sendiri dan tidak perlu adanya orang lain untuk memindahkannya.” Nah, demikian juga masalah dengan Tuhan, Dia adalah berdiri sendiri dan tidak memerlukan sesuatupun untuk menjadikan keberadaanya, dengan demikian pertanyaan itu tidaklah logik.

Seandainya tokoh tadi adalah seorang muslim, tentunya namanya disebut. Kemungkinan besar bahwa pendapat ini berasal dari sarjana Al Kitab. Dalam buku yang lain yang berjudul Al-Iman Wal-Hayah (Iman dan Hidup), ketika membahas masalah nilai keimanan Dr. Yousif Karadawi mengakhiri bab yang berjudul ‘Iman dan Budi Pekerti’ dengan sebuah bahagian yang bertajuk Penolakan-penolakan. Dalam bahagian itu dia menjawab beberapa penolakan atau keberatan pihak atheis, dan mempertahankan nilai keimanan kepada Tuhan, dengan mengutip pendapat-pendapat dari lima tokoh Al Kitab dengan jumlah tulisan 114 baris dan mengutip hanya dua sarjana muslim saja dengan jumlah total tulisannya 35 baris.

Pendek kata, beban yang ditanggung oleh dua negara muslim di atas dalam membuktikan keberadaan Tuhan dan mempertahankan sifat-sifat-Nya telah dipercayakan kepada para sarjana-sarjana yang telah belajar Al Kitab.

Jadi sama seperti nabi Muhammad, sekitar 1300 tahun yang lalu, menyakini kesaksian dan hikmat kaum Ahli Kitab dalam menilai dan membuktikan apa yang dia nyatakan, para pengikutnyapun masih melakukan hal yang sama. Karadawi dalam bukunya Iman dan Hidup menceritakan tentang perjuangan dan pergumulan seorang ilmuwan yaitu Dr. Henry Link dalam pengembaraanya untuk menemukan Tuhan. Karadawi juga menampilkan Dr. Henry Link sebagai contoh seseorang yang mencari dan menemukan Tuhan dan kebenaran-Nya. Rupanya menurut pengarang muslim dari buku Iman dan Hidup ini, Dr. Link sebagai pengikut Isa Almasih adalah satu-satunya contoh iman yang luar biasa yang dapat diketengahkan kepada para pembacanya.

Dalam buku yang lain lagi yang berjudul Al-Islam Yatahada (Islam Menantang [segala macam 'isme']), si pengarang dalam kata pengantarnya mengakui: “petikan-petikan yang secara terbuka mendukung agama, sebahagian besar dari mereka dipetik dari para ilmuwan yang menjadi pengikut Isa Al Masih. Tak menghairankanlah kalau mereka juga berbagi keyakinan syurgawi kepada kami.” [10]

Sekali lagi nyatalah bahwa saat seorang pengarang Muslim hendak menulis sebuah buku tentang mempertahankan iman bagi kaum Muslim, dia menggunakan sumbangan yang diberikan oleh para sarjana yang ramai dari mereka adalah ahli Al Kitab. Mereka ini disebut “Umat yang mempunyai pengetahuan (hikmat)“, sejak awalnya Islam, menurut Al Qur’an. Nabi Muhammad diperintahkan untuk merujuk kepada mereka apabila berada dalam keragu-raguan. Demikian juga para pengikutnya menggunakan pengetahuan yang ada pada kaum yang berhikmat ini dalam hal-hal agama dan dalam menghadapi tekanan-tekanan dari para ahli kafir yang semakin kuat dewasa ini.

Baik dari Al Qur’an maupun dari karya-karya tulis moden nampak jelaslah bahwa kaum Nasrani (orang Muslim yang sejati) yang memiliki Al Kitab yang asli telah menjadi tuntunan rohani dan pembela iman dalam Tuhan bagi siapa saja yang mencari kebenaran. Mereka itulah umat yang tetap akan ada hingga Hari Kiamat sebagai mana telah disaksikan oleh Al Qur’an sendiri. Sebagai salah seorang Muslim yang sejati dan pemilik Kitab Imam, saya benar-benar bangga.

Suyuti, mengulas nas Ali ‘Imraan 3:55

Nawader Al-Osool, Tirmizi hal.156. Dipetik Al-Tirmizi, Kitab Khatm Al-Awliya, disunting oleh Othman I.Yahya, Imperial Catholique, Beirut, hal.431.
Sobhy as-Salih, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, Dar al-’Ilm lel-Malayeen, Beirut, 1983, hal.17
Ibid, hal.19
Ibid, hal.17
Ibid, hal.20
Ibid, hal.78
Razi, At-Tafsir al-Kabir, mengulas nas Al Israa’ 17:85
Suyouti, Itqan Fi ‘Ulum Al-Qur’an, Al-Hai’ah Al-Misriyah Al-’Aamah Lil-kitab, 1975, Part II, Section 65: Al-’Ulum al-Mustanbata men Al-Qur’an.
Wahid ad-Din Khan, Al-Islam Yatahada, diterjemahkan ke bahasa Arab oleh Zafrul Islam Khan, Mu’asasat ar-Risalah, Beirut, hal.23.

camp hawariyun ta riful quraan



Pembahasan tentang pengertian al-Qur'an (ta’riful Qur’an) mencakup tiga bagian pembahasan yaitu: definisi al-Qur'an, nama-nama al-Qur'an, dan fungsi atau kedudukan al-Qur'an

Mukadimah
Pemahaman kaum muslimin ¾ secara umum ¾ terhadap al-Qur'an masih parsial (juz’i). Hal itu menyebabkan Al-Qur'an belum difungsikan secara menyeluruh dan utuh. Sebagian masyarakat memahami al-Qur'an sebagai obat (syifa) saja, maka mereka memfungsikannya hanya sebatas sebagai penyembuh. Sehingga, Al-Qur'an baru dekat dengan orang-orang yang sakit, sekarat atau sudah meninggal. Padahal al-Qur'an sebenarnya lebih dibutuhkan oleh orang-orang yang sehat. Sebagian yang lain hanya memahami al-Qur'an sebagai kitab bacaan yang pahalanya besar. Pemahaman yang terbatas ini mendorong masyarakat merasa puas setelah hanya membaca al-Qur'an. Pemungsian al-Qur'an oleh masyarakat sangat dipengaruhi oleh pengetahuan (tashawur) dan persepsi mereka terhadap al-Qur'an itu sendiri. Hal inilah yang membuat pengenalan terhadap al-Qur'an menjadi sangat penting.

1. Pengertian al-Qur'an (ta’riful Qur’an)

Para ulama tafsir al-Qur'an dalam berbagai kitab ‘ulumul qur’an, ditinjau dari segi bahasa (lughowi atau etimologis) bahwa kata al-Qur'an merupakan bentuk mashdar dari kata qoro’a – yaqro’uu – qiroo’atan – wa qor’an – wa qur’aanan. Kata qoro’a berarti menghimpun dan menyatukan; al-Qur'an pada hakikatnya merupakan himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang menjadi satu ayat, himpunan ayat-ayat menjadi surat, himpunan surat menjadi mushaf al-Qur'an. Di samping itu, mayoritas ulama mengatakan bahwa al-Qur'an dengan akar kata qoro’a, bermakna tilawah: membaca. Kedua makna ini bisa dipadukan menjadi satu, menjadi “al-Qur'an itu merupakan himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang dapat dibaca”

Makna al-Qur'an secara ishtilaahi, al-Qur'an itu adalah “Firman Allah SWT yang menjadi mu’jizat abadi kepada Rasulullah yang tidak mungkin bisa ditandingi oleh manusia, diturunkan ke dalam hati Rasulullah SAW, diturunkan ke generasi berikutnya secara mutawatir, ketika dibaca bernilai ibadah dan berpahala besar” Dari definisi di atas terdapat lima bagian penting:

· Al-Qur'an adalah firman Allah SWT (QS 53:4), wahyu yang datang dari Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Maka firman-Nya (al-Qur'an) pun menjadi mulia dan agung juga, yang harus diperlakukan dengan layak, pantas, dimuliakan dan dihormati.

· Al-Qur'an adalah mu’jizat. Manusia tak akan sanggup membuat yang senilai dengan al-Qur'an, baik satu mushaf maupun hanya satu ayat.

· Al-Qur'an itu diturunkan ke dalam hati Nabi SAW melalui malaikat Jibril AS (QS 26:192). Hikmahnya kepada kita adalah hendaknya al-Qur'an masuk ke dalam hati kita. Perubahan perilaku manusia sangat ditentukan oleh hatinya. Jika hati terisi dengan al-Qur'an, maka al-Qur'an akan mendorong kita untuk menerapkannya dan memasyarakatkannya. Hal tersebut terjadi pada diri Rasululullah SAW, ketika al-Qur'an diturunkan kepada beliau. Ketika A’isyah ditanya tentang akhlak Nabi SAW, beliau menjawab: Kaana khuluquhul qur’an; akhlak Nabi adalah al-Qur'an.

· Al-Qur'an disampaikan secara mutawatir. Al-Qur'an dihafalkan dan ditulis oleh banyak sahabat. Secara turun temurun al-Qur'an itu diajarkan kepada generasi berikutnya, dari orang banyak ke orang banyak. Dengan cara seperti itu, keaslian al-Qur'an terpelihara, sebagai wujud jaminan Allah terhadap keabadian al-Qur'an. (QS 15:9).

· Membaca al-Qur'an bernilai ibadah, berpahala besar di sisi Allah SWT. Nabi bersabda: “Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, laam satu huruf, miim satu huruf dan satu kebaikan nilainya 10 kali lipat” (al-Hadist).

Ali bin Abi Thalib berkata: Aku dengar Rasulullah SAW bersabda: “Nanti akan terjadi fitnah (kekacauan, bencana)” Bagaimana jalan keluar dari fitnah dan kekacauan itu Hai Rasulullah? Rasul menjawab: “Kitab Allah, di dalamnya terdapat berita tentang orang-orang sebelum kamu, dan berita umat sesudah kamu (yang akan datang), merupakan hukum diantaramu, demikian tegas, barang siapa yang meninggalkan al-Qur'an dengan sengaja Allah akan membinasakannya, dan barang siapa yang mencari petunjuk pada selainnya Allah akan menyesatkannya, Al-Qur'an adalah tali Allah yang sangat kuat, cahaya Allah yang sangat jelas, peringatan yang sangat bijak, jalan yang lurus, dengan al-Qur'an hawa nafsu tidak akan melenceng, dengannya lidah tidak akan bercampur dengan yang salah, pendapat manusia tidak akan bercabang, dan ulama tidak akan merasa puas dan kenyang dengan al-Qur'an, orang-orang bertaqwa tidak akan bosan dengannya, al-Qur'an tidak akan usang sekalipun banyak diulang, keajaibannya tidak akan habis, ketika jin mendengarnya mereke berkomentar ‘Sungguh kami mendengarkan al-Qur'an yang menakjubkan’, barang siapa yang mengetahui ilmunya dia akan sampai dengan cepat ke tempat tujuan, barang siapa berbicara dengan landasannya selalu benar, barang siapa berhukum dengannya hukumnya adil, barang siapa yang mengamalkan al-Qur'an dia akan mendapatkan pahala, barang siapa yang mengajak kepada al-Qur'an dia diberikan petunjuk ke jalan yang lurus” (HR Tirmidzi dari Ali r.a.)

2. Nama-nama al-Qur'an

Di dalam al-Qur'an terdapat banyak nama-nama al-Qur'an. Dibalik nama itu kita akan memahami fungsi al-Qur'an.

· Al-Qur'an

Nama yang paling populer adalah al-Qur'an itu sendiri, Allah menyebutkannya 58 kali. Penyebutan berulang-ulang itu menjadi peringatan bagi manusia agar dapat memfungsikan al-Qur'an sebagai bacaan agar mendapatkan petunjuk dalam hidup (QS 2: 185)

· Al-Kitab

Artinya, wahyu yang tertulis. Menurut Syaikh Abdullah ad Diros, penamaan dengan al-Kitab menunjukkan bahwa al-Qur'an tertulis dalam mushaf dan hendaknya melekat di dalam hati. Rasulullah bersabda: “Orang yang di dalam hatinya tidak ada sedikitpun al-Qur'an, bagaikan rumah yang rusak” (al-Hadist)

· Al-Huda

Artinya, petunjuk (QS 2:2). Sebagai petunjuk (al-Huda) merupakan fungsi utama dari diturunkannya al-Qur'an (QS 2:185). Kita tidak dapat menjadikan al-Qur'an sebagai petunjuk jika kita tidak membaca dan memahaminya, mengamalkannya dengan baik.

· Rahmah

Berarti rahmat, terutama bagi orang-orang yang beriman (QS 17:82).

· Nur

Berarti cahaya penerang. Konsekuensi dari pemahaman ini adalah dengan menjadikan al-Qur'an sebagai cahaya yang menerangi jalan hidup kita (QS 5:15-16). Kita melihat tuntunan al-Qur'an, kemudian melangkah dengan tuntunan itu.

· Ruh

Berarti ruh sebagai penggerak (QS 16:2). Ruh menggerakkan jasad manusia. Dengan nama ini Allah SWT ingin agar al-Qur'an dapat menggerakkan langkah dan kiprah manusia. Terutama perannya untuk memberikan peringatan kepada seluruh manusia bahwa tidak ada Ilah selain Allah.

· Syifa’

Berarti obat (QS 10:57). Al-Qur'an merupakan obat penyakit hati dari kejahiliyahan, kemusyrikan, kekafiran dan kemunafikan.

· Al-Haq

Berarti kebenaran (QS 2:147).

· Bayan

Berarti penjelasan atau penerangan (QS 3:138; 2:185).

· Mauizhoh

Berarti pelajaran dan nasehat (QS 3:138).

· Dzikr

Berarti yang mengingatkan (QS 15:9).

· Naba’

Berarti berita (QS 16:89). Di dalam al-Qur'an memuat berita-berita umat terdahulu dan umat yang akan datang.

3. Fungsi dan kedudukan al-Qur'an

Fungsi utama dari al-Qur'an adalah kitab petunjuk (kitabul hidayah). Di samping itu al-Qur'an juga memiliki fungsi-fungsi yang lain, antara lain:

Kitab berita (an-Naba’ wal akhbar) (QS 78:1-2)
Kitab hukum dan aturan (al-hukmu wasy syari’ah) (QS 5:49-50)
Kitab berjuang (Kitabul Jihad) (QS 29:69)
Kitab pendidikan (Kitabut tarbiyyah) (QS 3: 79)
Kitab ilmu pengetahuan (Kitabul ‘Ilm)

ta riful quraan

Home
Tauhidulloh
Syariah
Siroh
Bina Keluarga
Ulama
Ukhuwah
Jihad
Ta’riful Qur’an
MONDAY, 15 DECEMBER 2008
Pemahaman kaum muslimin secara umum terhadap al-Qur'an masih parsial, hal itu menyebabkan Al-Qur'an belum difungsikan secara menyeluruh dan utuh.

Sebagian masyarakat memahami al-Qur'an sebagai obat (syifa) saja, maka mereka memfungsikannya hanya sebatas sebagai penyembuh,. Sehingga, Al-Qur'an baru dekat dengan orang-orang yang sakit, sekarat atau sudah meninggal. Padahal al-Qur'an sebenarnya lebih dibutuhkan oleh orang-orang yang sehat. Sebagian yang lain hanya memahami al-Qur'an sebagai kitab bacaan yang pahalanya besar saja. Pemahaman yang terbatas ini mendorong masyarakat merasa puas setelah hanya membaca al-Qur'an. Pemungsian al-Qur'an oleh masyarakat sangat dipengaruhi oleh pengetahuan (tashawur) dan persepsi mereka terhadap al-Qur'an itu sendiri. Hal inilah yang membuat pengenalan terhadap al-Qur'an menjadi sangat penting.
ada sebagian umat Islam yang mengimani sebagian ayat-ayat Al Qur'an, namun menolak sebagian ayat-ayat yang lain. Misalnya mengenai ayat tentang wajib berpuasa Ramadhan. Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa..." (QS. Al Baqarah: 183).
Ketika mendengar ayat ini, maka seorang muslim mengatakan kami dengar dan kami taat. Mereka melaksanakan puasa Ramadhan. Namun ketika Allah SWT berfirman (Al Baqoroh : 178-179):

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka Barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih[111].179. dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.
Mereka bimbang dalam melaksanakan hukum qishash. Bahkan menjadikan hukum ini sebagai bagian dari syariat Islam yang menyeramkan. Padahal ayat tentang qishosh ini urutannya ada di 4 ayat sebelum kewajiban berpuasa, namun mengapa mereka hanya mengimani kewajiban berpuasa saja? Dan lagi, padahal bentuk kalimat mewajibkannya juga sama, yaitu dengan "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu ..... dst ... agar/supaya kamu bertaqwa". Namun mengapa mereka hanya mengimani sebagiannya saja? Mengapa?

kata al-Qur'an merupakan bentuk mashdar dari kata qoro’a – yaqro’uu – qiroo’atan – wa qor’an – wa qur’aanan. Kata qoro’a berarti menghimpun dan menyatukan; al-Qur'an pada hakikatnya merupakan himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang menjadi satu ayat, himpunan ayat-ayat menjadi surat, himpunan surat menjadi mushaf al-Qur'an. Di samping itu, mayoritas ulama mengatakan bahwa al-Qur'an dengan akar kata qoro’a, bermakna tilawah: membaca. Kedua makna ini bisa dipadukan menjadi satu, menjadi “al-Qur'an itu merupakan himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang dapat dibaca”
Al Qur'anul karim adalah kitab yang diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW. Al Qur'an merupakan sumber rujukan paling utama bagi umat Islam, dan bagian dari rukun iman. Al Qur'an adalah pedoman hidup, dan rahmatan lil 'alamin. Artinya, barangsiapa yang mengaku dirinya sebagai muslim, maka sudah sepantasnyalah dia mengamalkan apa-apa yang terdapat di dalam Al Qur'an.”
Ali bin Abi Thalib berkata: Aku dengar Rasulullah SAW bersabda: “Nanti akan terjadi fitnah (kekacauan, bencana)” Bagaimana jalan keluar dari fitnah dan kekacauan itu Hai Rasulullah? Rasul menjawab: “Kitab Allah, di dalamnya terdapat berita tentang orang-orang sebelum kamu, dan berita umat sesudah kamu (yang akan datang), merupakan hukum diantaramu, demikian tegas, barang siapa yang meninggalkan al-Qur'an dengan sengaja Allah akan membinasakannya, dan barang siapa yang mencari petunjuk pada selainnya Allah akan menyesatkannya, Al-Qur'an adalah tali Allah yang sangat kuat, cahaya Allah yang sangat jelas, peringatan yang sangat bijak, jalan yang lurus, dengan al-Qur'an hawa nafsu tidak akan melenceng, dengannya lidah tidak akan bercampur dengan yang salah, pendapat manusia tidak akan bercabang, dan ulama tidak akan merasa puas dan kenyang dengan al-Qur'an, orang-orang bertaqwa tidak akan bosan dengannya, al-Qur'an tidak akan usang sekalipun banyak diulang, keajaibannya tidak akan habis, ketika jin mendengarnya mereke berkomentar ‘Sungguh kami mendengarkan al-Qur'an yang menakjubkan’, barang siapa yang mengetahui ilmunya dia akan sampai dengan cepat ke tempat tujuan, barang siapa berbicara dengan landasannya selalu benar, barang siapa berhukum dengannya hukumnya adil, barang siapa yang mengamalkan al-Qur'an dia akan mendapatkan pahala, barang siapa yang mengajak kepada al-Qur'an dia diberikan petunjuk ke jalan yang lurus” (HR Tirmidzi dari Ali r.a.)
Bahasa Al-qur'an adalah mu'jizat besar sepanjang masa, keindahan bahasa dan kerapihan susunan katanya tidak dapat ditemukan pada buku-buku bahasa Arab lainnya. Gaya bahasa yang luhur tapi mudah dimengerti adalah merupakan ciri dari gaya bahasa Al-Qur'an. Karena gaya bahasa yang demikian itulah ‘Umar bin Khattab masuk Islam setelah mendengar Al-Qur'an awal surat Thaha yang dibaca oleh adiknya Fathimah. Abul Walid, diplomat Quraisy waktu itu, terpaksa cepat-cepat pulang begitu mendengar beberapa ayat dari surat Fushshilat yang dikemukakan Rasulullah sebagai jawaban atas usaha-usaha bujukan dan diplomasinya.
Bahkan Abu Jahal musuh besar Rasulullah, sampai tidak jadi membunuh Nabi karena mendengar surat adh-Dhuha yang dibaca Nabi. Tepat apa yang dinyatakan Al-Qur'an, bahwa sebab seorang tidak menerima kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu Ilahi adalah salah satu diantara dua sebab, yaitu :
Fungsi Al-Qur'an
1. Pedoman Hidup, Penjelas dan Pembeda
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS Albaqoroh: 185)
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (Qs Albaqoroh : 2)
Imam –Muhyis Sunnah- Abu Muhammad Al-Husein Al-Baghawi menukil sebuah hadits tentang keinginan Umar –semoga ALLAH meridhoinya— untuk menulis sebagian Taurat karena menganggap isinya bermanfaat. Kata Umar –semoga ALLAH meridhoinya—: “Kami mendengar cerita-cerita dari orang Yahudi dan kami mengaguminya, maka izinkanlah kami menulisnya? Maka jawab Nabi –semoga shalawat serta salam ALLAH atas beliau-: Apakah pemahamanmu ingin menjadi bingung sebagaimana mereka sudah dibingungkan dengan agama mereka? Sungguh aku telah datang kepada kalian membawa kejelasan tanpa ada keraguan sedikitpun, wa law kaana Muusaa hayyan maa wasi’ahuu illa ittibaa’ii (Dan seandainya Nabi Musa masih hidup maka tidak halal baginya kecuali mengikuti agamaku).” [18]

Dari hadist diatas bisa diambil pelajaran bahwa mengambil pedoman hidup lain walaupun taurat yang datangnya dari Aloh tapi karena telah diganti dengan pedoman hidup lain (Al Quran) maka haram hukumnya, apalagi mengganti dengan pedoman hidup lain buatan manusia, karena jika hal itu dilakukan maka akan sesuai QS Al Furqon : 30

Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan AlQuran itu sesuatu yg tidak diacuhkan".(Qs Alfurqon:30)

2 Kitab hukum dan aturan (al-hukmu wasy syari’ah) (QS 5:49-50)
“ Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. “ Qs Al Maidah 49
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? “ Qs Al Maidah 50

My family